aa a i i a A ul Ba a' al-Ukbary yang mengatakan, Alquran ialah wahyu yang lafal dan maknanya dari Allah swt. sementara hadis qudsi ialah wahyu yang lafalnya dari Rasul, sedang maknanya dari Allah, diturunkan dengan jalan ilham atau jalan mimpi.46 Nampaknya Hasbi setuju dengan pendapat Abul Ba a' al-Ukbary ini. Semangatjihad mereka memang tidak bisa dihalangi, namun kalau mereka mati syahid tentu saja Alquran akan kalau ditanya kenapa di masa setelah wafatnya Nabi SAW harus dilakukan pengumpulan Alquran, jawabnya karena penulisan Alquran di masa kenabian itu meski sudah dilakukan, namun belum lagi disusun sebagaimana urutan surat dan ayat yang Didalam Alquran ungkapan qaulan ma'rufan ditemukan pada 4 tempat; QS 2:235, QS 4:5, QS 4:8 dan QS 23:32. Jarak antara wahyu pertama dan kedua Rasulullah yang cukup lama yaitu kurang lebih dua setengah tahun lamanya, membuat Rasulullah diliputi perasaan cemas dan khawatir. Makalah ini disusun agar para pembaca dapat mengetahui DownloadFull PDF Package. Translate PDF. MAKALAH ORIENTALISME: AL-QUR'AN DIMATA BARAT Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Orientalisme dan Oksidentalisme Dosen Pengampu: Roma Ulinnuha, M.Hum Disusun Oleh Mr.Eirfan Lueba NIM 14520013 Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Program: Studi agama-agama UNIVERSITAS ISLAM NEGERI Haditsmerupakan sumber aturan agama Islam yang kedua sehabis kitab suci Al - Qur'an. Jika suatu perkara tidak dijelaskan di dalam Al - Qur'an, maka umat Islam akan memakai sumber yang kedua yaitu Hadits. Pengertian Hadits, Fungsi dan Jenis-jenis Hadits Secara Lengkap Jika diartikan dari kata dasarnya, maka pengertian hadits yaitu MengapaAl-Quraan disusun berbeda dengan urutan ayat diturunkan? Tidak demikian. Al-Quran sejak zaman Nabi sudah disusun berdasarkan susunan yang diinstruksikan oleh Malaikat Jibril meskipun ayat Quran itu diturunkan sesuai konteks dan kondisi saat itu yang berjalan sesuai taqdir ketetapan Allah. Dengandemikian, Alquran sebagai wahyu Allah yang terakhir di dunia ini merupakan sumber yang tidak pernah berhenti untuk pengembangan berbagai bidang kehidupan manusia itu sendiri. Dengan kata lain, Alquran merupakan sunnatullah yang beriringan danberdampingan dengan hukum-hukum alam yang menjadi dasar pergerakan dan perjalanan ala mini. Dandari awal surat hingga ayat yang mengandung tanantangan tersebut tidak mengandung lafal "alquran", malainkan hanya mengandung lafal "alkitab". Dari sini maka semakin jelas pentingnya menggali mukjizat wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui kajian alkitab atau dengan memerhatikan berbagai qiraat yang terlihat pada mushaf MenurutImam al-Zarkasyi, seorang pakar 'Ulum al-Qur'an, sebenarnya istilah Makkiyah dan Madaniyah dalam pembahasan 'Ulum al-Qur'an memiliki tiga konotasi: 1) berkonotasi tempat; 2) berkonotasi periode waktu (sebelum atau sesudah hijrah); 3) berkonotasi objek wahyu (khithab), tergantung kepada penduduk kota mana (Makkah/Madinah) wahyu AlQuran turun melalui dua tahap. Pertama, Al Quran diturunkan secara lengkap dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul Izzah di langit dunia. Kedua, dari Baitul Izzah, Al Quran diturunkan kepada Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam secara bertahap dalam waktu 22 tahun lebih. Sebagian ulama menyebutkan angka cantik: 22 tahun, 2 bulan, 22 hari. GaJQ. Al-Qur'an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Rasulullah melalui Malaikat Jibril sekaligus menjadi mukjizat terbesar. Saat itu, teks-teks Al-Qur'an masih tersimpan kuat dalam ingatan para sahabat dan belum tersusun seperti sekarang karena masih tersebar di pelapah kurma, tulang, kulit, dan sebagainya. Lalu mengapa di zaman Rasulullah ayat-ayat Al-Qur'an tersebut tidak dikodifikasi atau dibukukan dalam satu mushaf? Syaikh Ali As-Shabuni menjelaskan bahwa setidaknya ada 5 hal yang menjadi penyebab tidak ada kodifikasi Al-Qur'an di zaman Rasulullah. Hal ini sebagaimana ia jelaskan dalam Kitab Attibyan Fi Ulumil Qur'an 198558-59. Pertama, Al-Qur'an diturunkan kepada Rasulullah tidak sekaligus melainkan secara berangsur-angsur selama kurang lebih 23 tahun. Kondisi ini tentu tidak memungkinkan untuk mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur'an dalam satu mushaf sebelum ayat-ayat itu turun secara keseluruhan. Kedua, ada sebagian ayat Al-Qur'an yang ter-mansukh. Hal ini juga tidak memungkinkan untuk mengumpulkan ayat Al-Qur'an dalam satu mushaf kecuali sampai semuanya turun dengan sempurna. Dalil mengenai nasikh-mansukh ini sebagaimana termaktub dalam surat Al-Baqarah ayat 106 مَا نَنْسَخْ مِنْ اٰيَةٍ اَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِّنْهَآ اَوْ مِثْلِهَا Artinya Ayat yang Kami batalkan atau Kami hilangkan dari ingatan, pasti Kami ganti dengan yang lebih baik atau yang sebanding dengannya. Ketiga, susunan surat dan ayat-ayat dalam Al-Qur'an tidak berdasarkan waktu diterimanya wahyu oleh Rasulullah. Ada kalanya surat atau ayat diturunkan di awal tapi dalam susunannya ditempatkan menjelang akhir, seperti surat Al-Alaq ayat 1 sampai 5 yang turun di awal namun dalam penempatannya ada di surat ke-96. Syaikh Ali As-Shabuni menjelaskan, ada 2 pendapat mengenai wahyu terakhir yang diterima oleh Rasulullah. Pendapat pertama adalah Surah Al-Baqarah ayat 281 وَاتَّقُوْا يَوْمًا تُرْجَعُوْنَ فِيْهِ اِلَى اللّٰهِ ۗ ثُمَّ تُوَفّٰى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ Artinya Dan takutlah pada hari ketika kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, dan mereka tidak dizalimi dirugikan. Sedangkan pendapat kedua adalah Surat Al-Maidah ayat 3 اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ Artinya Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Syaikh Ali As-Shabuni sendiri lebih setuju dengan pendapat pertama karena Surah Al-Baqarah ayat 281 diterima pada 9 hari/malam sebelum wafatnya Rasulullah. Sedangkan Surat Al-Maidah ayat 3 turun saat menunaikan ibadah haji wada. Rasulullah sendiri wafat 81 hari setelah haji wada. Keempat, selisih waktu antara ayat yang terakhir diterima dengan waktu wafatnya Rasullullah terbilang singkat, yakni sekitar 9 hari sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Waktu yang cukup singkat tersebut dinilai tidak cukup untuk membukukan Al-Qur'an dalam satu mushaf. Kelima, tidak ada pihak yang mendorong untuk melakukan kodifikasi Al-Qur'an karena kultur masyarakat Arab saat itu lebih mengarahkan perhatiannya pada hafalan sehingga banyak melahirkan hafidz-hafidzah yang mampu menjaga kemurnian ayat-ayat Al-Qur'an. Wallahu a’lam. Aiz Luthfi TanyaMengapa ayat-ayat al-Qur’an tidak disusun berdasarkan waktu turunnya? Misalnya, mengapa ayat 3 dari surah al-Maidah diletakkan di awal surah kelima, padahal ayat itu adalah ayat terakhir yang diterima Nabi saw.? Mengapa surah al-Alaq atau Iqra’ yang diturunkansebagai wahyu pertama diletakkan di bagian akhir al-Qur’an?[Ahmad Nur Cholis Jakarta]JawabAyat-ayat al-Qur’an turun berinteraksi dengan masyarakat. Sebab turundan masalah yangdibicarakannya silih berganti. Semuanya itu berlangsung selama 22 tahun, 2 bulan, dan 22 hari, jika Anda sependapat dengan mereka yang menyatakan bahwa ayat 3 dari surah al-Maidah adalah ayat terakhir yang diterima Nabi Muhammad dapat menduga keras bahwa jika ayat-ayat al-Qur’an disusun sesuai dengan masa turunnya, maka hubungan uraian antara satu ayat dengan ayat lainnya tidak akan serasi. Bayangkanlah apa hubunganantara ayat 5 surah al-Alaq wahyu pertama Dia Allah mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya QS. al-Alaq [96] 5dengan ayat pertama wahyu kedua Wahai orang yang berselimut! [73] atau QS. al-Muddatstsir [74]. Dua surah ini sengaja disebut karena para ulama berbeda pendapat tentang kedua wahyu itu ihwal mana yang pertama dan mana yang kedua. Sebab,kedua surah itu dimulai dengan perintah ini berbeda dari susunan yang ada sekarang. Perhatikan, misalnya, hubungan yang amat serasi antara kelima ayat wahyu pertama QS. al-Alaq [96] 1-5 dengan ayat keenam surah yang Anda ketahui bahwa ayat keenam turun sekian tahun setelahturunnya wahyu pertama itu. Melihat kandungan ayat enam dan seterusnya yang berbicara tentang sikap kaum Musyrik terhadap NabiMuhammad saw. dan ajarannya, maka dapat dipastikan bahwa ayat ini dan ayat-ayat berikutnya turun setelah Nabi mengumandangkan ajaran-ajaranIslam di hadapan umum, yakni setelah turunnya firman Allah,yakni ayat 94 dalam surah al-Hijr yang dinyatakan oleh sebagian ulamasebagai turun tiga tahun sesudah menerima wahyu ingin penulis garisbawahi adalah bahwa walaupun ayat 6surah al-Alaq itu dan ayat-ayat berikutnya turun jauh hari kemudian,kaitan kandungannya dengan ayat kelima dan ayat-ayat sebelumnya sangat erat dan serasi. Hal ini tidak mengherankan karena penempatan atau susunan ayat-ayat al-Qur’an, sebagaimana terlihat dalam mushafal-Qur’an dewasa ini, berdasarkan petunjuk Allah kepada Nabi-Nya yang disampaikan oleh Malaikat Jibril setiap kali menyampaikan kalam ayat-ayat al-Qur’an atas petunjuk Allah yang tidak sesuai dengan masa turunnya itu dibahas oleh sejumlah ulama guna menemukan rahasianya. Selain menemukan sekian banyak pesan yang terselip atau penjelasan makna, mereka juga menemukan keserasian hubungan antara ayat terdahulu dan ayat ditempatkannya sesudahnya,walaupun turunnya jauh kemudian. Salah seorang yang paling berhasil dalam bidang ini adalah Ibrahim bin Umar al-Biqa’i w. 885 H/1480 M dengan karyanya yang sangat mengagumkan, Nazhm ad-Durar fi Tanasub al-Ayat wa asy-Shuwar Untaian Mutiara ihwal KeserasianHubungan antara Ayat-Ayat dan Surah-Surah al-Qur’an.Di sini, yang dimaksud dengan keserasian di antaranya adalah keserasian antarkata dalam susunan suatu ayat, keserasian antara penutup ayat fashilat dengan kandungan ayatnya, dan keserasian antara ayat dengan ayat berikutnya. Demikian pula halnya antara mukadimah satu surah dan penutup surah sebelumnya. Dan masih ada banyak keserasianlainnya yang kesemuanya mengandung makna dan pesan-pesan. Kita tidak akan menguraikannya di sini karena keterbatasan ruangan. Sekadar contoh, keserasian hubungan antara ayat keenam surah al-Alaq dengan ayat-ayat sebelumnya 1-5 adalah bahwa kelima ayat pertama, antaralain, memperkenalkan Allah dan manusia yang telah beroleh anugerah demikian besar sejak awal kejadiannya hingga pemeliharaan danpengetahuan yang diajarkan kepadanya. Akan tetapi, sebagaimana dijelaskan dalam ayat keenam, makhluk ini yakni, manusia kafir, bersikap angkuh, melampaui batas, dan lengah, padahal kelak dia akankembali kepada Allah.[M. Quraish Shihab – Dewan Pakar Pusat Studi al-Qur’an] - Peristiwa Nuzulul Quran secara umum diperingati pada malam 17 Ramadan setiap tahunnya. Pada 2019, malam 17 Ramadan akan jatuh pada Selasa 21/5/2019.Dalam "Penjelasan Seputar Nuzulul Qur'an" yang termuat di situs web NU, terdapat setidaknya tiga teori tentang turunnya Alquran. Yang pertama, Alquran memang diturunkan sekaligus dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah langit dunia, dan hal ini terjadi pada Lailatul Qadar. Namun, kemudian ayat demi ayat Alquran diturunkan secara bertahap ke bumi. Turunnya Alquran pertama kali ke bumi inilah yang kemudian disebut Nuzulul perkataan Ibnu Abbas, bahwa "Alquran itu diturunkan pada bulan Ramadan pada Lailatul Qadar secara sekaligus, kemudian diturunkan lagi berdasarkan masa turunnya sebagian demi sebagian secara berangsur pada beberapa bulan dan hari.”Teori kedua bahwa Alquran diturunkan ke langit dunia selama 20 malam Lailatul Qadar dalam 20 tahun, sementara Lailatul Qadar hanya turun sekali dalam setahun. Setelah itu ayat-ayat Alquran tersebut dibacakan kepada Nabi Muhammad sesuai dengan kebutuhan berikutnya, teori ketiga, menyatakan bahwa Alquran turun pertama kali pada Lailatul Qadar. Selanjutnya, Alquran diturunkan ke bumi secara bertahap dalam waktu yang berbeda-beda. Dari ketiga teori tersebut, yang paling banyak dianut adalah teori Alquran ke dunia ditandai dengan penerimaan wahyu pertama oleh Nabi Muhammad, yaitu Surah al-Alaq ayat 1 hingga 5, di Gua Hira. Sejak awal, Muhammad sudah terbiasa merenung, memikirkan hakikat kebenaran, juga kondisi lingkungannya. Ia memilih tempat yang jauh dari keramaian. Hal ini sudah dilakukan sejak masih bujang hingga kemudian menikah dengan Khadihah dan memiliki beberapa dari Sejarah Hidup Muhammad 1980 karya Muhammad Husain Haekal, lokasi yang dipilih Muhammad adalah puncak Gunung Hira, - sejauh dua farsakh sebelah utara Mekah -. Di sana, terletak sebuah gua yang baik sekali untuk tempat menyendiri, yang kemudian disebut Gua bulan Ramadan tiap tahun, ia pergi ke sana dan berdiam di tempat itu, cukup hanya dengan bekal sedikit yang dibawanya. Ia tekun dalam renungan dan ibadat, jauh dari segala kesibukan hidup dan keributan manusia. Ia mencari Kebenaran, dan hanya kebenaran semata. Dirangkum dari artikel berjudul "Sejarah Nabi Muhammad 2 Wahyu Pertama yang Menggetarkan" yang ditulis oleh Zakky Mubarak, wahyu pertama untuk Muammad itu datang pada suatu malam di bulan Ramadan tahun 610 M. Malaikat Jibril mendatanginya dan berkata, "Bacalah!" Muhammad menjawab "Aku tidak bisa membaca", namun malaikat tersebut Nabi menariknya dan memeluknya erat-erat sehingga kepayahan. Kemudian, Jibril melepaskan Muhammad, dan sekali lagi berkata, "Bacalah."Hal itu terulang hingga tiga kali, lalu Jibril melepaskan Muhammad sembari mengucapkan ayat pertama hingga kelima Surah بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ. خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ. اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ. الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ Artinya, "Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaran qalam pena. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." Setelah Muhammad mengucapkan bacaan itu, sang malaikat pergi. Namun, kata-kata itu terpateri dalam kalbunya. Dalam keadaan yang masih gelisah, Muhammad pulang dan meminta Khadijah menyelimutinya. Tubuhnya ketika itu menggigil seperti dalam kemudian menyampaikan apa yang terjadi kepada Khadijah, lalu berkata, "Sesungguhnya aku mencemaskan diriku." Khadijah dengan penuh kasih menenangkan suaminya, "Demi Allah, Allah selamanya tidak akan menghinakan engkau. Sesungguhnya engkau selalu menyambung tali persaudaraan, selalu menanggung orang yang kesusahan, selalu mengupayakan apa yang diperlukan, selalu menghormati tamu dan membantu derita orang yang membela kebenaran."Baca juga Sejarah Tarawih Bermula dari Kasih Sayang Rasulullah pada Umatnya Hukum Sisa Makanan yang Tertelan Saat Puasa di Bulan Ramadan Sejarah Misteri Kematian Fatimah binti Muhammad pada 3 Ramadan Pidato Nabi Muhammad Jelang Ramadan untuk Seluruh Umat Manusia - Sosial Budaya Penulis Beni JoEditor Fitra Firdaus